Cerita Krakatau 1883


Kami berlindung dari Ketentuanmu Ya Allah
Pembimbing kehidupan ini

Aku memohon ampun kepada-Mu Ya Allah
dari segala hilap dan ketidak-tahuan

Berilah selalu bimbingan-Mu Ya Allah
dari ketidak-tahuan dan ketidak-perdayaan

Berilah selalu lindungan-Mu Ya Allah
dari segala kehidupan beserta godaan dan gangguannya

Agustus 1883, lebih dari satu abad lamanya Krakatau telah menuliskan cerita sepanjang sejarah manusia modern, khususnya untuk negeri yang kita cintai ini. Meski Letusan Gunung Krakatau tahun 1883 masih tidak sebesar Gunung Tambora 1815, tetapi letusan Gunung Krakatau merupakan letusan yang paling lengkap dicatat oleh sejarah manusia, teknologi sudah maju ketimbang letusan yang terjadi di Tambora tahun 1815, dengan telah ditemukan telegraf yang menyebarkan informasi menjadi lebih cepat saat itu membuat kabar letusan ini menyebar luas seantero dunia. Letusan Krakatau menjadi salah satu bencana terbesar dalam sejarah, kurang dari 48 jam (2 hari) menghancurkan ratusan kota dan desa, dan menelan korban meninggal lebih dari 36 ribu nyawa.

Mempelajari Film Dokumenter Drama (dokudrama) yang berjudul “Krakatoa, The Last Days” atau dalam bahasa Indonesia “Krakatau, Hari-hari Terakhir”. Film yang diproduksi oleh Discovery Channel ini menceritakan secara detil proses terjadinya letusan dasyat yang tercatat secara lengkap berdasarkan kesaksian dan catatan dari orang-orang selamat dari peristiwa besar tersebut. Di film ini bercerita dari beberapa bulan sebelum terjadinya letusan yang terjadi di bulan Agustus 1883, mulai dari gejala-gejala awal sebelum letusan sampai dengan letusan besar dan dampaknya.

Rogier Verbeek, Ilmuan Belanda yang melakukan penelitian tentang Gunung Krakatau dan menjadi saksi hidup letusan gunung Krakatau. Verbeek mengumpulkan cerita-cerita dari korban yang hidup dan sekaligus juga merupakan saksi keganasan letusan Gunung Krakatau, berdasarkan dari catatan tersebut film dokumenter “Krakatoa, The Last Days” dibuat.

Di awal film Verbeek bercerita :

Aku hidup, puluhan ribu tidak selamat.
Sebagian dari mereka adalah teman-temanku.
Aku lewati 2 tahun terakhir hidupku,
dengan mencoba pulih dari peristiwa besar pada Agustus 1883.

Kami tinggal di wilayah paling banyak gunung api di planet ini, Indonesia.
Ada lebih dari 100 gunung api aktif di sini.
Krakatau hanya salah satunya.
Pulau gunung api Krakatau,
terletak di tengah-tengah Selat Sunda.
30 mil dari daratan.

Berabad-abad orang di sini harus hidup di bawah tatapan gunung itu.
Kami mengira tidak berbahaya.
Aku seharusnya bisa menolong orang-orang itu.
Mereka menjadi saksi hari-hari terakhir
Ketika dunia berubah untuk selamanya.

Tanda-tanda Sebelum Terjadinya Letusan

Tentunya sebelum terjadi suatu kejadian alam yang berbahaya bagi kehidupan baik manusia maupun makhluk hidup lain seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, atau tsunami, alam sekitar seolah memberi tahu apa yang akan terjadi. Bagaimana kelakuan hewan, kucing dan anjing mendadak pergi dari rumahnya, burung-burung berterbangan seolah-olah ingin menghindar, atau ayam yang enggan bertelur. Jika manusia mempunyai akal dan pikiran yang mampu menciptakan sesuatu yang disebut “Ilmu Pengetahuan”, hewan-hewan mempunyai insting untuk mengenali alam sekitarnya dan bertahan hidup dari ancaman yang membahayakan kehidupan mereka.

Untuk pertama kali sebelum terjadi ledakan hebat Agustus 1883, tanggal 20 Mei Krakatau mengeluarkan asap yang sangat banyak. Gempa-gempa sering terjadi di daerah sekitar Krakatau sebelum terjadinya ledakan hebat pada tanggal 26 Agustus 1883.

Dalam film tersebut, Verbeek sendiri berkata ketika Krakatau pertama kali mengeluarkan asap yang sangat banyak (20 Mei 1883): “Aku tak tahu waktu itu apa yang disampaikan gunung api, ledakan itu adalah isyarat. Jauh di bawah bumi, magma sedang mencari jalan ke permukaan. Hanya soal waktu saja sebelum keluar.”

Begitu pula makhluk hidup yang ada di sekitar menampakkan bentuk-bentuk kejanggalan. Hewan-hewan seperti kebingungan, ayam enggan bertelur, mereka merasakan dan pergi menghindar.

Entah Melupakan, Dilupakan atau Tidak Peduli

Salah satu yang menarik dari cuplikan demi cuplikan film dokumenter ini adalah orang-orang di sekitar Gunung Krakatau dan orang-orang di negeri ini mungkin telah mengenal cerita gunung tersebut, bisa jadi cerita turun menurun yang diwariskan dari generasi ke generasi. Johanna Beyerinck seorang istri penguasa Belanda di desa pesisir Ketimbang di Lampung yang bernama Williem Beyerinck, dia telah merasakan firasat tidak baik akan menimpa Gunung Krakatau sebelum ledakan besar Agustus 1883, mulai dari gempa-gempa yang sering terjadi hingga dari cerita masyarakat setempat ketika melakukan komunikasi dengan mereka.

Malam sebelum ledakan terjadi yaitu tanggal 25 Agustus, setelah ada pertunjukkan wayang golek yang bercerita tentang letusan Krakatau, Johanna berbicara pada Verbeek yang sebagai ilmuwan lebih mengenal gunung berapi, memberikan isyarat akan letusan Gunung Krakatau. Sama seperti ketika Johanna berbicara pada suaminya yang tidak menganggap kekhawatirannya, Verbeek menganggap takhyul tentang Krakatau, meski pun Johanna menceritakan gejala-gejala yang aneh terjadi. “Perhatikan hewan bertingkah laku aneh, kera-kera dan burung tidak tinggal di pohon, ayam tidak bertelur, penduduk yakin gunung itu amat berbahaya”, itu lah sepenggalan kalimat yang tidak diindahkan oleh Verbeek.

Ketika Krakatau pertama kali mengeluarkan asap yang banyak tanggal 20 Mei, kejadian itu malah dibuat momentum untuk mengumpulkan uang, dijadikan perjalanan bagi orang-orang Eropa untuk melihat Krakatau lebih dekat saat itu. Orang-orang di sekitar gunung Krakatau pun menganggap asap yang dikeluarkan saat itu tidak berbahaya, mereka tetap melakukan aktifitas bekerja di sekitar pantai 30 mil dari Krakatau, terlepas mereka tahu atau tidak, mungkin yang mereka pikirkan hanya bagaimana mencari nafkah untuk hidup mereka, keluarga dan anak-anak mereka, terlebih saat itu hidup dalam kondisi dikuasai bangsa asing, hidup bisa jadi sulit, mungkin juga sama halnya dengan sekarang.

Begitu juga dengan Williem Beyerinck, yang bertanggung jawab atas wilayah pesisir pantai di Ketimbang, lebih mementingkan urusan bisnis sebagai pejabat Belanda ketimbang mendengarkan keluh istrinya yang merasakan sesuatu akan terjadi pada Krakatau.

Dan lagi-lagi cerita berulang, persis dengan cerita meletus Gunung Vesusius di tahun 79 M menghancurkan kota Pompeii dan Hercunaleum dan menewaskan 3.360 orang, tepat pada hari letusan orang-orang di kota Pompeii sedang mengadakan perayaan, gempa-gempa yang terjadi dianggap biasa, dan akhirnya kota ini lenyap seketika ketika letusan terjadi. Begitu pula dengan yang terjadi di pesisir desa Ketimbang, tepat pada hari letusan terjadi, orang-orang di sana sedang mengadakan perayaan pembukaan pasar, dan saat ledakan pertama Krakatau meminta korban, tsunami pertama menuju utara menghancurkan Bank Kapas (Ketimbang), korban ribuan nyawa tewas seketika.

Lalu di hari kedua tanggal 27 Agustus ledakan lebih dasyat dari hari sebelumnya, di daerah dekat Krakatau nyaris tidak ada fajar, sepanjang malam letusan terus meningkat. Dentuman terdengar hingga ratusan mil, setelah 20 jam terus menerus meletus, dapur magma Krakatau kosong dan gunung runtuh. Ledakan besarnya sampai terdengar di 3000 mil Australia, suara paling bising dalam sejarah. Jutaan ton abu dan batu apung tertumpah ke laut yang memicu tsunami dan lebih menghancurkan.

Pelajaran dari Letusan Krakatau 1883

Krakatau kala itu bercerita untuk negeri ini dan seluruh dunia, menjadi sebuah sejarah, dan pelajaran berharga. Verbeek di dalam film tersebut menjadi seorang saksi hidup yang mengetahui dengan jelas kejadian luar biasa dalam sejarah manusia modern. Verbeek menyesal ketika terlambat mengetahui bahwa Gunung Krakatau menyimpan misteri yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Pengetahuannya tentang gunung berapi membuat dirinya tidak mendengarkan cerita dan pesan yang disampaikan orang lain, cerita-cerita masyarakat yang tinggal di negeri ini dianggap tahyul tanpa mencari tahu asal muasal cerita tersebut atau maksud dari cerita tersebut. Ya, terkadang penguasaan tentang ilmu pengetahuan / sains menyingkirkan hal-hal yang tidak logis atau tidak ada dasar pengetahuannya, atau membuat ego tersendiri untuk tidak mengungkap hal tidak logis tersebut menjadi lebih logis. “Aku pikir 30 mil dari daratan akan melindungi dari Krakatau”, itu lah asumsi Verbeek sebelum mengetahui betapa hebatnya letusan Gunung Krakatau.

Begitu pula ketika orang pribumi menceritakan tentang Krakatau saat Verbeek berada di Buitenzorg (Bogor), bersama temannya Schuurman, kurang lebih 100 mil dari Krakatau, tepat saat letusan terjadi, dia cukup terkejut. Verbeek mendapat cerita bahwa Gunung Krakatau pernah meletus sebelumnya.

“Ada banyak cerita tentang gunung itu, tentang bagaimana gunung terlepas memecah belah daratan, lalu menenggelamkannya ke laut, dan bagaimana ia lahir kembali dari laut. Dan ada orang bilang ia akan muncul kembali menghancurkan kita”, begitulah yang diceritakan orang pribumi pada Verbeek.

“Pada tahun 416, dengan gemuruh besar, gunung meletus berkeping-keping dan tenggelam ke dalam bumi. Air laut naik dan membanjiri daratan”, Schuurman mengambil buku Pustaka Raja Purwa, cerita-cerita rakyat yang dikumpulkan oleh Ranggawarsita untuk memperjelas pernyataan tentang cerita Gunung Krakatau.

Entah itu cerita-cerita rakyat atau itu dari ilmu pengetahuan, tetap saja semuanya memberikan pelajaran untuk kita untuk lebih mengenal alam yang kita diami. Meski Krakatau telah hancur lebur saat itu, tapi sesuai dengan perkiraan Verbeek, gunung tersebut akan muncul kembali, tepat pada tahun 1927 terletak di 300 meter di bawah selat sunda gunung itu meletus kembali, dan muncul gunung baru dengan kecepatan 5 meter per tahun, kita menyebutnya “Anak Krakatau”.

Jika para ilmuwan sekarang menganggap butuh 3 gunung untuk membuat letusan sehebat tahun 1883, jangan lupa bahwa di perut bumi Krakatau tetap menyimpan dapur magma yang sama. Dapur magma yang sama ketika meletus hebat di tahun 416, sama dengan yang meletus tahun 1883 yang memakan korban lebih dari 36 ribu nyawa, dan entah kapan gunung Krakatau bangun kembali seperti cerita-cerita sebelumnya, tapi kini jutaan orang tinggal untuk menatap gunung tersebut.

Walaupun orang-orang kita dari ratusan tahun terbiasa atau harus terbiasa dengan ancaman alam yang kita tinggali, tetap saja apa lah guna ketika masih ada tangisan-tangisan dan penyesalan kemudian. Tidak ada salahnya untuk kita mengenal lebih dekat alam yang kita tinggali ini ^_^

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »